{"id":905,"date":"2021-11-15T18:57:35","date_gmt":"2021-11-15T11:57:35","guid":{"rendered":"https:\/\/hmtg.tg.itera.ac.id\/?p=905"},"modified":"2021-11-23T21:13:24","modified_gmt":"2021-11-23T14:13:24","slug":"pengolahan-metode-geolistrik-untuk-mengetahui-litologi-bawah-permukaan-di-kecamatan-padang-cermin","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/hmtg.tg.itera.ac.id\/?p=905","title":{"rendered":"PENGOLAHAN METODE GEOLISTRIK UNTUK MENGETAHUI LITOLOGI BAWAH PERMUKAAN DI KECAMATAN PADANG CERMIN"},"content":{"rendered":"\n<p><strong>Hello!!!<\/strong> Kembali lagi <em>nih <\/em>di postingan geofisika bareng kita, setelah di postingan sebelumnya kita membahas metode geolistrik secara umum, kali ini kita bakal memberikan penerapan dalam metode geolistrik yang akuisisi nya telah dilakukan di Kabupaten Pesawaran beberapa waktu lalu <em>lho<\/em>.<br>Penasaran? Simak sampai habis yaa!<\/p>\n\n\n\n<p><strong>I. Pendahuluan<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Kecamatan Padang Cermin menunjukan berbagai singkapan batuan marmer dan metamorf lainnya di permukaan. Batu metamorf ini dapat tersingkap dikarenakan adanya sesar yang membawa batuan ini ke permukaan. Untuk itu, dapat dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai litologi dan struktur dari Kecamatan Padang Cermin. Salah satunya dengan Metode Geolistrik yang dapat digunakan untuk mencari batuan dengan sifat resistivitas tertentu. Selain batuan, metode geolistrik juga dapat digunakan untuk mencari air tanah. Perbedaan sifat restivitas antara berbagai batuan akan menggambarkan litologi daerah tersebut. Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi litologi pada daerah Kecamatan Padang Cermin.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>II. Peralatan dan Prosedur Akuisisi<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>a. Desain Akuisisi<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"484\" height=\"342\" src=\"https:\/\/hmtg.tg.itera.ac.id\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/image-13.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-906\" srcset=\"https:\/\/hmtg.tg.itera.ac.id\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/image-13.png 484w, https:\/\/hmtg.tg.itera.ac.id\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/image-13-300x212.png 300w\" sizes=\"auto, (max-width: 484px) 100vw, 484px\" \/><figcaption>Gambar 1. Peta Desain Akuisisi Lokasi 1 Model 1D<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p>b. Peralatan Survei<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"595\" height=\"782\" src=\"https:\/\/hmtg.tg.itera.ac.id\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/image-30.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-921\" srcset=\"https:\/\/hmtg.tg.itera.ac.id\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/image-30.png 595w, https:\/\/hmtg.tg.itera.ac.id\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/image-30-228x300.png 228w\" sizes=\"auto, (max-width: 595px) 100vw, 595px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large is-resized\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/hmtg.tg.itera.ac.id\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/image-15.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-908\" width=\"489\" height=\"844\" srcset=\"https:\/\/hmtg.tg.itera.ac.id\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/image-15.png 525w, https:\/\/hmtg.tg.itera.ac.id\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/image-15-174x300.png 174w\" sizes=\"auto, (max-width: 489px) 100vw, 489px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"589\" height=\"818\" src=\"https:\/\/hmtg.tg.itera.ac.id\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/image-17.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-909\" srcset=\"https:\/\/hmtg.tg.itera.ac.id\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/image-17.png 589w, https:\/\/hmtg.tg.itera.ac.id\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/image-17-216x300.png 216w\" sizes=\"auto, (max-width: 589px) 100vw, 589px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p>c. Prosedur Survei<\/p>\n\n\n\n<p>Berikut ini merupakan prosedur survei\/akuisisi data geolistrik 1D&nbsp; yaitu :<\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\"><li>Persiapkan seluruh perlatan yang akan digunakan dalam pengukuran metode geolistrik 1D<\/li><li>Menentukan titik pengukuran geolistrik dan catat data koordinat dan elevasi titik tersebut.<\/li><li>Bentangkan meteran sepanjang 250 meter.<\/li><li>Bentangkan kabel sesuai dengan panjang lintasan yang telah ditentukan.<\/li><li>Pasang elektroda arus dengan kabel dengan menggunakan konfigurasi <em>schlumberger<\/em>. Gunakan palu untuk menancapkan elektroda kedalam tanah<\/li><li>Hubungkan elektroda arus dengan kabel dan konektor ke C1 dan C2 pada alat resistimeter.<\/li><li>Hubungkan elektroda potensial dengan kabel dan konektor ke P1 dan P2 pada alat resistimeter.<\/li><li>Hubungkan jack<em> INPUT<\/em> (+) dan (-) pada resistivitimeter baterai dengan kabel konektor. Kemudian perhatikan jarum pada indikator <em>Batt<\/em> hingga menunjuk ke bagian merah dikanan yang menunjukkan bahwa baterai dalam keadaan penuh (tegangan memadai). Jadi tidak perlu untuk diisi atau <em>dicharge <\/em>hingga penuh, sebelum digunakan.<\/li><li>Tombol OFF akan menjadi ON dengan memutar <em>power<\/em> ke kanan, maka resistivitimeter sudah dinyalakan. Kemudian perhatikan jarum pada indikator <em>current loop <\/em>hingga menunjuk ke bagian merah di kanan yang menunjukkan bahwa kontak elektroda arus dengan bumi dan resistivitimeter sudah cukup memadai.<\/li><li>Untuk ke angka yang dikehendaki putar tombol <em>OUTPUT<\/em> dari angka 0. Injeksi arus yang dihasilkan akan semakin besar apabila angka yang dipilih juga main besar (1-6).<\/li><li>Pada bagian <em>Compensator Coarse<\/em> diputar, kemudian pilih <em>Fine<\/em> perhatikan hingga <em>display <\/em>tegangan V (<em>Autorange<\/em>) menunjuk angka nol atau mendekati nol.<\/li><li>Lalu injeksikan arus ke bumi dengan menekan tombol <em>START<\/em> kemudian tahan hingga pada <em>display<\/em> arus I (mA) menunjukkan angka yang stabil.<\/li><li>Kemudian tombol <em>HOLD<\/em> ditekan dan baca nilai arus yang tertera pada <em>display<\/em> arus I (mA) serta nilai tegangan\/potensial yang tertera pada <em>display<\/em> tegangan V <em>(Autorange)<\/em> sebagai data pengukuran.<\/li><li>Untuk lebih meyakinkan data hasil pengukuran maka lakukanlah pengukuran beberapa kali. Kemudian catat semua hasil pengukuran dalam tabel hasil pengukuran, termasuk jarak spasi elektroda (A, N).<\/li><li>Lalu pindahkan posisi elektroda ke posisi pengukuran berikutnya. Lakukanlah prosedur pengukuran yang sama seperti langkah 1-14 untuk memperoleh data dengan posisi elektroda yang berbeda.<\/li><li>Lakukanlah hal yang sama hingga seluruh data diperoleh sesuai rencana&nbsp; pengukuran.<\/li><\/ol>\n\n\n\n<p><strong>III. Pengolahan data<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Berikut ini merupakan langkah-langkah yang dilakukan untuk pengolahan metode geolistrik 1D yaitu :<\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\" type=\"1\"><li>Setelah mendapatkan data di lapangan, hitung nilai rho rata-rata pada excel.<\/li><li>Buka <em>software<\/em> IPI2WIN \u2192 klik <em>File <\/em>\u2192 pilih <em>New VES Point<\/em><\/li><li><em>Input<\/em> nilai AB\/2, MN, dan ro_a<\/li><li>Klik <em>Save Txt<\/em> \u2192 klik <em>Ok<\/em>:<\/li><li>Pada MN, pilih <em>Avr <\/em>\u2192 Ok.<\/li><li>Lakukan <em>setting<\/em> pada kurva agar mendapatkan data yang sesuai dan <em>screenshoot<\/em> hasil.<\/li><li>Ulangi<em> step<\/em> 2-7 untuk setiap data titik <em>sounding<\/em>.<\/li><li>Buka <em>software<\/em> IPI2WIN \u2192 klik <em>File<\/em> \u2192 pilih <em>file<\/em> yang sudah di kerjakan tadi. Lalu klik <em>File <\/em>\u2192 pilih <em>file<\/em> yang sama. Lalu akan muncul tabel seperti berikut :<\/li><li>Masukkan nama <em>file<\/em> lalu <em>save<\/em>. Dan klik OK<\/li><li>Setelah itu lakukan proses interpretasi jenis litologi batuannya dengan menggunakan <em>software<\/em> Surfer<\/li><\/ol>\n\n\n\n<p>Berikut ini merupakan diagram alir metode geolistrik 1D :<\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-image\"><figure class=\"aligncenter size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"181\" height=\"569\" src=\"https:\/\/hmtg.tg.itera.ac.id\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/image-32.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-922\" srcset=\"https:\/\/hmtg.tg.itera.ac.id\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/image-32.png 181w, https:\/\/hmtg.tg.itera.ac.id\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/image-32-95x300.png 95w\" sizes=\"auto, (max-width: 181px) 100vw, 181px\" \/><figcaption>Gambar 2. Diagram Alir Metode Geolistrik 1D<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n<p><strong>IV. Hasil dan Pembahasan<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Setelah pengukuran resisitivitas dengan metode VES (Vertical Electrical Sounding) di Desa Way Ratai. Berdasarkan hasil pengoahan data yang telah dilakukan diperoleh hasil inversi 1D yang menunjukkan variasi resisitivitas, ketebalan dan kedalaman lapisan batuan. Adapun tabel rentang nilai resisitivitas berdasarkan hasil inversi untuk menentukan jenis litologi batuan pada daerah penelitian&nbsp; dapat dilihat pada tabel berikut ini :<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\">Tabel Jangkauan Resistivitas Daerah Penelitia<strong>n<\/strong><\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-table\"><table><tbody><tr><td><strong>Nilai Resistivitas<\/strong><\/td><td><strong>Litologi<\/strong><\/td><\/tr><tr><td>0 &#8211; 10 \u03a9m<\/td><td>Lempung<\/td><\/tr><tr><td>10 &#8211; 30 \u03a9m<\/td><td>Lempung Berpasir<\/td><\/tr><tr><td>30 &#8211; 100 \u03a9m<\/td><td>Batu Pasir<\/td><\/tr><tr><td>100 &#8211; 300 \u03a9m<\/td><td>Tuffan<\/td><\/tr><tr><td>&gt;300 \u03a9m<\/td><td>Basalt<\/td><\/tr><\/tbody><\/table><\/figure>\n\n\n\n<p>Berdasarkan tabel diatas identifikasi lapisannya terdapat batuan pasir, lempung, tuff dan basalt. Resistivitas lapisan batuan berkisar antara 11 \u2013 665 \u03a9m. Nilai resistivitas dibagi menjadi 5 klasifikasi yaitu nilai 0 &#8211; 10 \u03a9m merupakan batuan yang diinterpretasi sebagai batu lempung, 10 \u2013 30 \u03a9m merupakan batuan yang diinterpretasi sebagai batu &nbsp;lempung dengan sisipan pasir, 30 \u2013 100 \u03a9m merupakan batuan yang diinterpretasi sebagai batu pasir, 100 \u2013 300 \u03a9m merupakan batuan yang diinterpretasi sebagai batu tuff, dan &gt;300 \u03a9m merupakan batuan yang diidentifikasi sebagai basalt.<br>Adapun hasil interpretasi jenis batuan berdasarkan rentang nilai resisitivitas pada daerah penelitian&nbsp; dapat dilihat pada tabel berikut ini :<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\">Tabel Interpretasi Litologi Bawah Permukaan Daerah Penelitian<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"510\" height=\"211\" src=\"https:\/\/hmtg.tg.itera.ac.id\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/image-19.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-914\" srcset=\"https:\/\/hmtg.tg.itera.ac.id\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/image-19.png 510w, https:\/\/hmtg.tg.itera.ac.id\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/image-19-300x124.png 300w\" sizes=\"auto, (max-width: 510px) 100vw, 510px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p>Gambar 3 merupakan penampang resitivitas <em>cross section<\/em> antara TSD-9 dan TSD-10 yang berlokasi didaerah Way Ratai. Pada lokasi penelitian di daerah Way Ratai termasuk dalam formasi Menanga. Pada formasi Menanga disusun oleh batuan pasir, lempung, tuff dan basalt. Pada TSD-9 dan TSD-10 adanya korelasi kemiripan dari litologi batuan penyusunnya yaitu pada lapisan pertama TSD-9 yaitu <em>top soil<\/em> terdapat batuan lempung dengan sisipan pasir namun pada TSD-10 tidak ada kemenerusan, terdapat batuan tuff kompak. Pada lapisan kedua TSD-9 yaitu batu pasir, pada lapisan kedua TSD-10 yaitu batu pasir. Dapat dilihat bahwa adanya kemenerusan pada lapisan kedua TSD-9 dan TSD-10 yaitu terdapat pada kedalaman 4.75-12.3 pada TSD-9 dan 10.5-83.9 pada TSD-10. Pada lapisan ketiga TSD-9&nbsp; terdapat batuan lempung dengan sisipan pasir sementara pada TSD-10 tidak ada kemenerusan. Pada lapisan keempat TSD-9 terdapat batuan basalt pada kedalaman 21.4-\u221e dengan adanya kemenerusan pada TSD-10 pada kedalaman 83.9-\u221e<\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-image\"><figure class=\"aligncenter size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"484\" height=\"310\" src=\"https:\/\/hmtg.tg.itera.ac.id\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/image-29.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-920\" srcset=\"https:\/\/hmtg.tg.itera.ac.id\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/image-29.png 484w, https:\/\/hmtg.tg.itera.ac.id\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/image-29-300x192.png 300w\" sizes=\"auto, (max-width: 484px) 100vw, 484px\" \/><figcaption>Gambar 4. Model Litologi dan Korelasi Sounding Daerah Penelitian<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n<p><strong>V. Kesimpulan<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Kesimpulan dari penelitian ini adalah :<\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\" type=\"1\"><li>Litologi batuan daerah penelitian 2 didominasi oleh batuan pasir, lempung, tuff dan basalt.<\/li><li>Ketebalan lapisan tiap litologi begitu beragam. Hal ini menandakan adanya kontrol struktur geologi dalam litologi batuan.<\/li><\/ol>\n\n\n\n<p>That\u2019s all and thank you for the attention \ud83d\ude0a sampai bertemu kembali di postingan selanjutnya. See you!!<\/p>\n\n\n\n<p>Divisi Penelitian dan Pengembangan<br>Departemen Keilmuan<br>Divisi Pusat Data<br>Departemen Media, Informasi dan Komunikasi<br>BPH HMTG Mayapada 2021<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Hello!!! Kembali lagi nih di postingan geofisika bareng kita, setelah di postingan sebelumnya kita membahas metode geolistrik secara umum, kali ini kita bakal memberikan penerapan dalam metode geolistrik yang akuisisi nya telah dilakukan di Kabupaten Pesawaran beberapa waktu lalu lho.Penasaran? Simak sampai habis yaa! I. Pendahuluan Kecamatan Padang Cermin menunjukan berbagai singkapan batuan marmer dan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":""},"categories":[20],"tags":[],"class_list":["post-905","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-materi","clearfix","post-index","fader"],"jetpack_featured_media_url":"","jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/hmtg.tg.itera.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/905","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/hmtg.tg.itera.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/hmtg.tg.itera.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/hmtg.tg.itera.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/hmtg.tg.itera.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=905"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/hmtg.tg.itera.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/905\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":935,"href":"https:\/\/hmtg.tg.itera.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/905\/revisions\/935"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/hmtg.tg.itera.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=905"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/hmtg.tg.itera.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=905"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/hmtg.tg.itera.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=905"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}