{"id":953,"date":"2021-12-10T22:53:18","date_gmt":"2021-12-10T15:53:18","guid":{"rendered":"https:\/\/hmtg.tg.itera.ac.id\/?p=953"},"modified":"2021-12-10T22:53:22","modified_gmt":"2021-12-10T15:53:22","slug":"metode-seismik-pasif-mikrotremor","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/hmtg.tg.itera.ac.id\/?p=953","title":{"rendered":"Metode Seismik Pasif &#8220;Mikrotremor&#8221;"},"content":{"rendered":"\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/hmtg.tg.itera.ac.id\/wp-content\/uploads\/2021\/12\/image-12.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-955\"\/><\/figure>\n\n\n\n<p>Hello, kembali lagi di postingan ke-geofisika-an \ud83d\udc4b\ud83c\udffb<\/p>\n\n\n\n<p><em>By the way, <\/em>masih ingatkah kalian tentang metode seismik yang sudah pernah kita bahas di postingan-postingan sebelumnya? Yups, metode seismik refraksi dan metode seismik refleksi, keduanya merupakan rangkaian metode seismik aktif. Kali ini kita bakal berkenalan dengan salah satu metode seismik pasif <em>lho.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>Nggak <\/em>kalah pentingnya dari seismik pasif yang berperan besar di bidang eksplorasi, metode seismik pasif ini menggunakan gelombang seismik yang dihasilkan oleh alam dengan frekuensi rendah yang bisa digunakan untuk pemantauan aktivitas gunung api, pemantauan patahan aktif, strategi mitigasi bencana dalam gempa bumi dan perkiraan bencana gempabumi, dan untuk pemantauan sistem panas bumi.<\/p>\n\n\n\n<p>Penasaran? Simak sampai habis ya!<\/p>\n\n\n\n<p>Mikrotremor atau ambient noise merupakan getaran tanah dengan amplitudo mikrotremor yang dapat timbul karena faktor alam ataupun faktor manusia. Faktor alam yang dimaksud dapat berupa guncangan tanah, angin, pergerakan tanah, gelombang laut, serta gempabumi sedangkan faktor manusia berupa aktivitas manusia seperti lalu lintas, aktivitas industri, bangunan, dan lain sebagainya. Getaran tanah yang dimiliki mikrotremor beramplitudo pergeseran sekitar 0,1 hingga 1 \u03bcm dengan kecepatan getar antara 0,001 hingga 0,1 cm\/s, berdasarkan klasifikasi periode gelombang mikrotremor terbagi menjadi dua jenis, yaitu periode pendek memiliki nilai kurang dari 1 detik yang disebabkan oleh aktivitas manusia, dan mikrotremor periode panjang dengan nilai periode lebih dari 1 detik yang disebabkan oleh badai dan gelombang laut (Mirzaoglu dkk., 2003)<\/p>\n\n\n\n<p>Karakteristik mikrotremor erat kaitannya dengan kondisi struktur tanah wilayah daerah penelitian untuk mengetahui keadaan bawah permukaan tanah. Dari pengukuran mikrotremor dapat diketahui sifat getaran dalam lapisan dibawah permukaan tanah (Nakamura, 2000). Survei mikrotremor dapat dilakukan dengan perekaman secara simultan pada dua atau lebih lokasi. Salah satunya harus dilakukan di tempat yang memiliki struktur batuan keras (hard rock). Hal ini agar tidak terjadi penguatan frekuensi akibat gerakan tanah. Rasio spektrum yang diperoleh pada daerah lain akan dibandingkan dengan rasio spektrum yang terekam pada hard rock, sehingga diperoleh respon site terhadap mikrotremor. Oleh Nakamura (1989) diperkenalkan pendekatan kedua bersamaan dengan metode analisisnya. Ia menemukan bahwa rasio dari spektrum vertikal dan horizontal dari mikrotremor mengalami peningkatan pada frekuensi resonansi dan akan memperlihatkan puncak pada frekuensi tersebut. Menurut asumsi Nakamura, H\/V merefleksikan tingkat amplifikasi dari gerakan tanah. Dengan menggunakan metode ini maka pengukuran tidak perlu dilakukan menggunakan syarat adanya batuan keras (hard rock). Secara umum perekaman mikrotremor memerlukan seismometer dengan tiga komponen yang merekam komponen NS (north-south), EW (east-west), dan vertikal (up-down). Pada perekaman\u00a0 mikrotremor dilakukan pengukuran secara langsung karena yang direkam yaitu gelombang yang berasal dari alam, sehingga tidak memerlukan sumber buatan. analisis mikrotremor juga dapat digunakan untuk mengetahui karakteristik bangunan tanpa merusak bangunan, yaitu dengan menganalisis mikrotremor yang direkam pada setiap lantai bangunan dengan menggunakan gangguan alami berupa ambient noise. Sehingga bisa dikatakan bahwa mikrotremor didasarkan pada perekaman noise untuk menentukan parameter karakteristik dinamis suatu bangunan (damping rasio, frekuensi natural) dan fungsi perpindahan (amplifikasi dan frekuensi) bangunan.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/hmtg.tg.itera.ac.id\/wp-content\/uploads\/2021\/12\/image-11.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-954\"\/><figcaption>Gambar 1. Pengukuran Mikrotremor<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p>Nah sobat <em>geophysic<\/em> sekian perkenalan dari mikrotremor, untuk pembahasan lebih lanjut nantikan dipostingan berikutnya J. <em>See you next time, anyeong <\/em>\ud83d\udc4b\ud83c\udffb<em>&#8230;..<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Referensi:<br>Mirzaoglu, Mete. et al,. (2003). Application of microtremors to seismic microzoning procedure. Balkan: Journal of the Balkan Geophysical, Vol. 6, No. 3,p.<br>Nakamura, Y., 1989. A Method For Dynamic Characteristics Estimation of Subsurface. Quarterly Reports Of The Railway Technical Research Institute. Tokyo, 30, 25-33. Nakamura, Y., 2000. Clear Indentification of Fundamental Idea of Nakamura\u2019s Technique and Its Application. Tokyo University. Japan.<\/p>\n\n\n\n<p>Divisi Penelitian dan Pengembangan<br>Departemen Keilmuan<br>Divisi Pusat Data<br>Departemen Media, Komunikasi dan Informasi<br>BPH HMTG Mayapada 2021<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Hello, kembali lagi di postingan ke-geofisika-an \ud83d\udc4b\ud83c\udffb By the way, masih ingatkah kalian tentang metode seismik yang sudah pernah kita bahas di postingan-postingan sebelumnya? Yups, metode seismik refraksi dan metode seismik refleksi, keduanya merupakan rangkaian metode seismik aktif. Kali ini kita bakal berkenalan dengan salah satu metode seismik pasif lho. Nggak kalah pentingnya dari seismik [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":""},"categories":[20],"tags":[],"class_list":["post-953","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-materi","clearfix","post-index","fader"],"jetpack_featured_media_url":"","jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/hmtg.tg.itera.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/953","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/hmtg.tg.itera.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/hmtg.tg.itera.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/hmtg.tg.itera.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/hmtg.tg.itera.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=953"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/hmtg.tg.itera.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/953\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":956,"href":"https:\/\/hmtg.tg.itera.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/953\/revisions\/956"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/hmtg.tg.itera.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=953"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/hmtg.tg.itera.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=953"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/hmtg.tg.itera.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=953"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}